Menjadi Sosok yang baik dan Berguna bagi seorang petani
Hidup adalah perjalanan panjang bagi setiap umat manusia yang akan di jalani hingga ujung waktu. Jalan sempit, jalan terjal, akan selalu menghampiri setiap perjalanan manusia. Terutama bagi mereka yang ingin terus belajar dalam sebuah kenyataan bahwa terjun bermasyarakat akan memahami bagaimana kehidupan serta memberikan inspirasi bagi semua orang terutama bagi seorang petani. Sosok manusia yang bekerja dengan keras untuk menghasilkan bulir-bulir padi bermanfaat bagi semua orang. Dari tangan dan keringat merekalah semua kebutuhan pangan pokok kita dapat tepenuhi. Dengan segala kearifan dan keteguhan hatinya mereka bekerja untuk kesejahteraan orang banyak. Tetapi hampir sebagian orang di dunia ini hampir lupa keberadaannya maupun hasil kerja keras mereka untuk kita semua. Petani dijadikan tatanan rendah dalam bangsa ini dengan segala bentuk tekanan terhadapnya padahal mereka adalah sosok terpenting dalam bangsa ini. Sudah seharusnya petani menjadi sosok inspirasi bagi bangsa ini. Dengan segala keterbatasan mereka tetap melakukan pekerjaan yang sangat mulia bagi banyak orang.
Berbagai inspirasi yang hadir ketika melihat sosok petani adalah keteguhan hati dan keikhlasan mereka dalam melakukan pekerjaan. Tuntutan mereka hanya sederhana saja yaitu dapat tersedia pupuk dan hasil gabahnya tidak dipermainkan. Mereka hidup dengan kesederhanaan. Terkadang saat ini semua berubah begitu banyak petani yang tidak mengharapkan anaknya menjadi sosok petani, selain itu tidaklah banyak pemuda – pemuda yang ingin bercita- cita menjadi seorang petani karena mereka semua memberikan pandangan bahwa menjadi seorang petani hidupnya akan kekurangan dan tidak ada perubahan. Sebuah pandangan yang salah akan kehidupan petani saat ini dimana memang terjadi padangan rendah menjadi seorang petani apalagi untuk orang- orang yang setidaknya hidup di perkotaan. Bukankah sebagian masyarakat Indonesia saat ini hidup di pedesaan dan bagaimana apabila semua masyarakat di pedesaan tidak lagi ada yang mau menjadi sosok petani.
Sebuah pertanyaan yang sudah seharusnya dijawab dalam hati masing- masing. Sebenarnya ada berbagai macam cara dalam meningkatkan motivasi pemuda untuk menjadi seorang petani. Seorang petani yang bukan hanya bekerja mencangkul di sawah akan tetapi petani yang dapat melakukan manajerial yang baik dengan mengkombinasikan sisi pertanian menjadi sesuatu yang lebih menghasilkan potensi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengubah pandangan untuk menjadi sosok petani yang modern dimana mengetahui mengenai teknik, manajerial, dan pengefektifan lahan tersebut yaitu dengan pupuk organik yang berasal dari campuran jerami dan kotoran kerbau, bibit unggul yang dapat dikembangkan tidak hanya membeli, memanajerial pinjaman yang berasal dari bank terutama Bank pemerintah seperti BNI dengan sistem kredit mikro, memaksimalkan hasil panen yang dijual tidak hanya berbentuk gabah akan tetapi sudah berbentuk beras, menggabungkan diri dalam sebuah kelompok tani agar terciptanya kerjasama dalam pengadaan alat mesin maupun meringankan pekerjaan bagi petani itu sendiri dan berbagai macam cara yang dapat dilakukan untuk menjadi sosok petani modern.
Akan tetapi menjadi sosok yang baik dan berguna sangat penting bagi bangsa kita saat ini terutama akan keinginan menjadi sosok petani. Yang terpenting adalah pembangunan karakter dan mental saat ini yang tertanam pada sosok petani dapat menginspirasi siapa saja agar dapat membuka mata bahwa setiap lengan dan kaki kita sudah seharusnya berguna. Serta perkuatlah jatidiri kita sebagai negara agraris dimana terhampar luas bentangan sawah disetiap pulau yang semakin hari tergusur oleh pemukiman, terhempas dengan keengganan regenerasi pada pemuda. Sudah saatnya kita harus bergerak dan memberikan motivasi bagi diri kita maupun orang lain. Siapa saja yang dapat menggantikan petani saat ini bila semua enggan melakukan pekerjaan itu. Apakah seiring laju pertambahan penduduk yang begitu cepat dan laju alih fungsi lahan yang begitu cepat juga akan mengakibatkan ketergantungan pangan bangsa ini terhadap negara lain.
Sudah seharusnya kita cepat tersadarkan akan bahwa bangsa ini membutuhkan sosok yang baik dan berguna bagi diri, keluarga, masyarakat maupun negaranya. Ada sebuah cerita yang mungkin dapat menjadi inspirasi bagi kita.
"Dulu waktu aku masih kecil, aku bercita-cita bekerja di depan komputer," ujar salah seorang temanku, Budi. "Ha? Nggak ada yang lebih lucu, Bud?" sahut temanku yang lain. Kami memang spontan menertawakannya. Rasanya cita-cita itu begitu polos dan yah ... lucu saja. Dia tidak ingin menjadi dokter, guru, atau presiden. Itulah sederetan profesi yang biasa diucapkan anak kecil. (Atau sebenarnya itu cita-cita yang ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya?) Aku sendiri lupa, apa cita-citaku dulu ketika masih kecil. Yang jelas, aku tidak ingin menjadi guru seperti ayahku. Mungkin itu karena melihat murid-murid SPG yang berpraktik mengajar di SD-ku dulu, selalu dikerjai oleh teman-temanku. Dan lagi, mereka tampak grogi sekali. Jarang sekali ada yang kelihatan PD dan betul-betul pintar.
Selain itu, aku juga tak pernah bercita-cita menjadi petani--seperti Kakek. Menurutku, pekerjaan Kakek sangat berat. Setiap kali ia pulang dari sawah, aku melihat selalu saja ada tanah yang menempel, entah di kaki atau tangannya. Bajunya pun selalu kotor terkena lumpur. Aku juga tak tahu bagaimana Kakekku sanggup membiayai ayahku sekolah sampai bisa menjadi seorang guru. Yang jelas, rumah Kakek baru dibeton ketika aku sudah bekerja. Ketika aku masih kecil, rumah Kakek tampak kusam. Kurasa, Kakek memang tak memikirkan memperbaiki rumahnya.
Seingatku, aku tak pernah bercita-cita menjadi petani. Bagiku, menjadi petani itu tidak enak. Sudah pekerjaannya berat, baju yang dipakai bekerja tidak keren, harus mau kotor pula. Lagi pula, menjadi petani itu identik dengan kemiskinan. Nah, siapa yang mau? Mungkin sebenarnya aku juga bercita-cita seperti Budi. Aku ingin bekerja di lingkungan yang bersih, mengenakan baju bagus. Jadi bekerja di depan komputer entah sebagai apa--memang sepertinya menarik. Jauh lebih menarik daripada menjadi petani.Barangkali itu pula yang membuat sampai sekarang nasib petani tidak membaik. Tak ada yang mau menjadi petani. Bahkan ketika alat-alat pertanian dan ilmu pertanian semakin modern, profesi petani masih tidak menarik. Walaupun kita hidup di negara agraris, rasanya aku nyaris tak pernah menjumpai anak muda yang ingin menjadi petani. Padahal, kalau tidak ada yang mau menjadi petani, kita akan makan apa?.
Pertanyaan yang sama ini pun mungkin belum ada yang bisa menjawabnya. Jadi petani adalah sosok yang selalu menjadi inspirasi bagi siapa yang ingin mengabdikan hidupnya untuk orang banyak. Pekerjaan mulia yang menjadi harapan semua orang dimana semakin hari dilupakan semua orang. Oleh karena itu sampai saat ini cita – cita ku berubah dan aku menyatakan siap menjadi seorang petani. Seorang petani modern.
BNI Public Profile
Location:
Jakarta, Indonesia, 10220
Phone:
021 5789 9999
Biodata Penulis
Mochamad Akbar
Email awaludin.prawira@gmail.com





